Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengindikasikan potensi suntikan modal bagi Agrinas dari dividen Danantara. Hal ini sejalan dengan rencana integrasi Agrinas ke dalam struktur Danantara. Rosan menjelaskan bahwa dengan struktur Danantara yang baru, Agrinas akan menjadi bagian integral dari perusahaan tersebut, dan kemungkinan pendanaan akan berasal dari dividen yang diterima Danantara dari BUMN.
Langkah ini diambil seiring dengan transformasi tiga BUMN Karya (Virama Karya, Yodya Karya, dan Indra Karya) menjadi Agrinas, sebuah entitas yang fokus pada proyek ketahanan pangan, perkebunan, dan perikanan. Transformasi ini menelan biaya sebesar Rp 8 miliar. Meskipun sempat ada usulan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 8 triliun untuk Agrinas, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa usulan tersebut tidak akan disetujui.
Sinkronisasi Program dan Fokus Penguatan Struktur Agrinas
Rosan menekankan komitmen Danantara untuk menyelaraskan semua program dan kegiatannya, termasuk yang terkait dengan Agrinas, dengan prioritas pemerintah. Fokus utama saat ini adalah memperkuat struktur Agrinas sebelum memutuskan skema pendanaan lebih lanjut. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan untuk memastikan keberhasilan integrasi dan optimalisasi kinerja Agrinas.
Pemerintah berharap Agrinas dapat berkontribusi signifikan dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ketahanan pangan nasional. Integrasi dengan Danantara diharapkan dapat memberikan akses yang lebih luas terhadap sumber daya dan keahlian, sehingga Agrinas dapat menjalankan misinya secara efektif dan efisien.
Detail Transformasi Tiga BUMN Karya Menjadi Agrinas
Transformasi tiga BUMN Karya menjadi Agrinas melibatkan perubahan fokus bisnis yang signifikan. Berikut detail perubahan tersebut:
- Virama Karya berubah menjadi PT Agrinas Jaladri Nusantara, fokus pada sektor perikanan.
- Yodya Karya berubah menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara, fokus pada sektor pertanian.
- Indra Karya berubah menjadi PT Agrinas Palma Nusantara, fokus pada sektor perkebunan.
Perubahan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan sektor pangan dan kelautan melalui sinergi dan optimalisasi aset BUMN. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, inovasi, dan daya saing dalam industri pertanian, perkebunan, dan perikanan Indonesia.
Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di Istana Kepresidenan untuk membahas perkembangan Agrinas. Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri terkait, termasuk Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta pejabat tinggi lainnya seperti Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran Direktur Utama Perum Bulog Mayjen TNI Novy Helmy Prasetya menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap pengelolaan pangan nasional.
Rapat tersebut bertujuan untuk memastikan keselarasan program dan strategi Agrinas dengan kebijakan pemerintah. Hal ini penting untuk memastikan keberhasilan transformasi dan kontribusi Agrinas bagi perekonomian nasional.
Kejelasan mengenai skema pendanaan Agrinas dan strategi pengembangannya yang lebih rinci masih dinantikan publik. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan Agrinas menjadi kunci keberhasilan program ini untuk mencapai tujuannya dalam meningkatkan ketahanan pangan dan membuka lapangan kerja di Indonesia.