Memarahi anak adalah respons alami orangtua ketika anak berbuat salah. Namun, cara memarahi yang salah dapat melukai perasaan anak dan berdampak negatif pada perkembangannya. Sebaliknya, memarahi anak dengan tepat dapat mengajarkan nilai-nilai penting dan batasan dalam hidup.
Lalu, bagaimana cara memarahi anak yang benar? Berikut penjelasannya.
Cara Memarahi Anak yang Benar
Seiring bertambahnya usia, emosi anak berkembang, dan ekspresi perasaannya semakin beragam. Mereka mungkin lebih sering menunjukkan emosi seperti mudah marah atau kesal, sehingga orangtua merasa perlu menegur atau memarahi.
Namun, cara Anda memarahi anak sangat berpengaruh pada perkembangan emosionalnya. Agar teguran efektif tanpa melukai perasaan anak, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Kendalikan Emosi Sebelum Berbicara
Meskipun perilaku anak membuat Anda marah, kendalikan emosi sebelum berbicara. Ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, misalnya dengan bernapas dalam atau menjauh sebentar dari situasi tersebut.
Menurut Child Mind Institute, memarahi atau membentak anak justru membuat pesan Anda sulit diterima. Ini malah dapat membuat anak lebih agresif dan melawan. Tetap tenang agar anak lebih memahami pesan Anda.
2. Gunakan Nada Tegas, tetapi Lembut
Hindari membentak, berteriak, menyalahkan, atau memanggil anak dengan julukan negatif. Gunakan nada tenang namun tegas untuk menunjukkan bahwa perilakunya tidak baik.
Contohnya, katakan, “Mama tidak suka kamu melempar mainan. Itu bisa merusaknya.” Berbicara dengan lembut namun tegas akan lebih efektif daripada berteriak.
3. Jangan Takut Mendisiplinkan Anak
Saat anak berbuat salah, jangan takut mendisiplinkan mereka. Meskipun tergoda untuk selalu menjadi teman terbaik anak, peran Anda sebagai orangtua yang mendidik sangat penting.
Disiplin dan batasan membantu anak merasa lebih percaya diri di masa depan. Proses ini butuh usaha dan kesabaran, tapi hasilnya sangat berharga. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bermoral baik. “Dengan disiplin, kita bukan sekadar jadi pengamat pasif yang tiba-tiba dituntut untuk bereaksi secara mendadak. Kita terlibat aktif sebagai pengajar,” kata Dr. Edward Gaydos, DO – Dokter Anak dari Cleveland Clinic.
4. Jelaskan pada Anak
Berikan penjelasan mengapa perilaku tersebut salah. Sebagian besar orang, termasuk anak-anak, tidak suka aturan tanpa alasan jelas.
Anak perlu memahami tujuan aturan, instruksi, dan harapan dalam hidupnya. Penjelasan yang jelas akan membantu mereka belajar dan mengerti, daripada hanya menerima larangan tanpa konteks.
5. Beri Contoh yang Baik
Anak belajar dengan meniru orangtua. Jika Anda mudah marah atau sering membentak, mereka akan meniru perilaku tersebut. Berikan contoh bagaimana mengelola emosi dengan baik.
Tunjukkan kebiasaan yang ingin Anda ajarkan, misalnya merapikan mainan atau meja setelah makan. Jadilah role model yang baik bagi anak Anda.
6. Ajak Anak Berdiskusi
Mengajak anak berdiskusi membantu mereka memahami mengapa perilaku mereka tidak diterima. Berikan kesempatan pada mereka untuk berpendapat dan merasa dihargai.
Diskusi membantu Anda menjelaskan konsekuensi tindakan mereka dengan lebih baik. Mendengarkan anak juga menunjukkan rasa hormat dan empati.
7. Kenali Karakter Anak
Karakter anak berbeda-beda. Sesuaikan cara memarahi anak dengan kepribadiannya.
Beberapa anak mudah dipahami lewat penjelasan verbal, sementara yang lain lebih responsif dengan pendekatan lembut atau berbasis rutinitas. Pahami anak Anda agar Anda dapat berkomunikasi dengan efektif.
8. Hindari Hukuman Fisik
Hukuman fisik seperti memukul atau menampar tidak efektif dan merusak hubungan, serta menumbuhkan rasa takut pada anak.
Pilih pendekatan positif dan membangun, seperti memberikan konsekuensi yang jelas atau waktu untuk merenung.
9. Beri Pujian atau Hadiah
Setelah memarahi anak, berikan apresiasi ketika mereka menunjukkan perbaikan. Ini memotivasi mereka untuk terus belajar menjadi lebih baik.
Memberikan pujian atau hadiah juga membangun rasa percaya diri mereka dan mengajarkan bahwa perilaku positif akan mendapat pengakuan. Jadikan hal ini sebagai reinforcement positif.
Tujuan memarahi anak adalah membantu mereka belajar dan tumbuh, bukan untuk melampiaskan emosi. Dengan menerapkan cara-cara di atas, Anda membantu anak memahami kesalahannya dan membangun hubungan yang harmonis.
Kesimpulan
Berikut rangkuman cara memarahi anak yang tepat:
Ingat, mendisiplinkan anak membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Jadilah orangtua yang bijak dan penuh kasih sayang dalam mendidik anak Anda.