Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 120,72 poin atau 1,83 persen pada perdagangan Kamis (27/2/2025), mencapai level 6.485,44. Pelemahan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan signifikan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Penurunan saham perbankan ini disebabkan oleh beberapa faktor, menurut Wawan Hendrayana, Head of Research Infovesta Utama. Kondisi ekonomi yang berat menjadi salah satu penyebab utama. Likuiditas yang ketat akibat suku bunga tinggi juga memberikan tekanan signifikan pada sektor ini.
Kinerja perbankan yang kurang optimal sepanjang tahun 2024 semakin memperparah situasi. Kebijakan ekonomi yang cenderung inflasi, seperti perang tarif yang dipicu oleh kebijakan “Trumpian”, juga memicu aksi profit taking, terutama dari investor asing.
Meskipun potensi meredanya konflik geopolitik dapat menekan inflasi bahan bakar dan pangan, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tetap terbatas. Hal ini membuat prospek jangka pendek sektor perbankan masih dibayangi ketidakpastian.
Saham Perbankan Besar Menderita Penurunan Signifikan
Beberapa bank besar mengalami penurunan yang cukup drastis. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 4,97 persen ke level 3.630. Bank Mandiri (BMRI) juga mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu 5,28 persen ke level 4.660.
Bank Syariah Indonesia (BRIS) mencatat penurunan paling tajam di antara bank-bank besar lainnya, anjlok hingga 8,36 persen ke level 2.630. Bank Central Asia (BBCA) turun 2,85 persen ke level 8.525, sedangkan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami koreksi tipis sebesar 0,23 persen ke level 4.340.
Meskipun valuasi saham perbankan besar dinilai sudah cukup murah, Wawan memprediksi potensi pelemahan masih berlanjut. Secara teknikal, IHSG berpotensi tertekan hingga level 6.300-an sebelum terjadi rebound.
Rebound ini diprediksi akan terjadi jika konflik Rusia-Ukraina menemukan penyelesaian dan suku bunga mulai menurun. Situasi geopolitik dan kebijakan moneter global memiliki dampak yang besar terhadap kinerja pasar saham Indonesia.
Strategi Investasi Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Wawan menyarankan strategi investasi yang berbeda bagi investor jangka pendek dan jangka panjang. Investor jangka panjang disarankan untuk mulai melakukan akumulasi saham saat harga sedang melemah, memanfaatkan peluang untuk membeli aset berkualitas dengan harga yang lebih rendah.
Sebaliknya, investor jangka pendek disarankan untuk menunggu dan mengamati situasi pasar terlebih dahulu (“wait and see”). Volatilitas pasar yang tinggi membuat investasi jangka pendek rentan terhadap kerugian jika tidak dikelola dengan cermat.
Secara fundamental, Wawan menekankan bahwa bank-bank besar (“big cap”) tetap menguntungkan dalam jangka panjang. Namun, kondisi makro ekonomi dan geopolitik saat ini memerlukan analisis yang lebih hati-hati sebelum melakukan investasi.
Perlu dipertimbangkan pula faktor-faktor eksternal lainnya seperti kebijakan pemerintah, inflasi global, dan perkembangan teknologi yang dapat mempengaruhi kinerja sektor perbankan. Diversifikasi portofolio investasi juga sangat disarankan untuk meminimalisir risiko.
Informasi lebih lanjut mengenai kondisi pasar saham dan strategi investasi yang tepat dapat diperoleh dari berbagai sumber terpercaya, seperti laporan riset dari lembaga keuangan, konsultan investasi profesional, dan media keuangan terkemuka. Penting untuk selalu mengupdate informasi dan melakukan riset sebelum membuat keputusan investasi.
Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa pasar saham memiliki risiko intrinsik. Keputusan investasi harus berdasarkan analisis yang matang dan sesuai dengan profil risiko masing-masing investor. Konsultasi dengan ahli keuangan profesional sangat dianjurkan, terutama bagi investor pemula.
Baca juga: Penukaran Uang Baru 2025 BI Dimulai 3 Maret, Ini Cara Daftarnya
Baca juga: Ini Saham-saham yang Bakal Dapat Angin Segar dengan Adanya Danantara