IHSG Merosot, Saham SSIA Cetak Rekor Lonjakan 13,45 Persen

Redaksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada perdagangan Senin, 24 Maret 2025, bergerak di zona merah dengan pelemahan 0,66 persen ke posisi 6.221. Penurunan ini bertolak belakang dengan penguatan yang terjadi di bursa saham Asia Pasifik. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penurunan IHSG tersebut.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka sedikit turun di posisi 6.242,23, sama dengan penutupan sebelumnya. Namun, pergerakan IHSG kemudian terus melemah hingga mencapai titik terendah di 6.194,52. Indeks LQ45 juga turut tertekan, mengalami penurunan 1,4 persen ke posisi 681. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan cukup signifikan di pasar saham Indonesia.

Sebanyak 313 saham melemah, yang menjadi faktor utama penurunan IHSG. Sementara itu, hanya 130 saham yang menguat dan 152 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 120.334 kali dengan volume perdagangan 1,3 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 1,5 triliun. Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.504.

Analisis sektoral menunjukkan mayoritas sektor mengalami tekanan. Sektor energi susut 1,35 persen, sektor basic melemah 1,65 persen, dan sektor industri terpangkas 1,22 persen. Sektor consumer nonsiklikal tergelincir 1,38 persen, sektor siklikal merosot 1,02 persen, dan sektor kesehatan susut 1,41 persen. Sektor keuangan melemah 0,07 persen, sektor properti terperosok 1,12 persen, dan sektor transportasi susut 0,59 persen. Hanya sektor teknologi yang mencatatkan penguatan signifikan, yakni 7,23 persen, menjadi penguatan terbesar diantara sektor lainnya.

Gerak Saham Individual

Beberapa saham menunjukan pergerakan yang menarik. Saham SSIA misalnya, melonjak 13,45 persen ke posisi Rp 970 per saham pada awal perdagangan. Hal ini menunjukkan adanya sentimen positif yang spesifik terhadap saham tersebut. Pergerakan harga saham SSIA dibuka naik 70 poin ke posisi Rp 925 per saham, mencapai level tertinggi Rp 1.030 dan terendah Rp 925 per saham. Total frekuensi perdagangan mencapai 4.518 kali dengan volume perdagangan 205.881 saham dan nilai transaksi Rp 20,1 miliar.

Berbeda dengan SSIA, saham PGEO hanya naik 0,64 persen ke posisi Rp 790 per saham. Pembukaan perdagangan saham PGEO stagnan di posisi Rp 785 per saham, dengan level tertinggi Rp 800 dan terendah Rp 765 per saham. Total frekuensi perdagangan 740 kali dengan volume perdagangan 31.131 saham dan nilai transaksi Rp 2,4 miliar. Pergerakan yang lebih moderat ini mengindikasikan sentimen pasar yang kurang agresif terhadap saham PGEO.

Saham GOTO justru mengalami penurunan 1,23 persen ke posisi Rp 80 per saham. Meskipun dibuka naik satu poin ke posisi Rp 82 per saham, saham GOTO berada di level tertinggi Rp 82 dan terendah Rp 80 per saham. Total frekuensi perdagangan 889 kali dengan volume perdagangan 1.224.495 saham dan nilai transaksi Rp 9,5 miliar. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan jual pada saham GOTO.

Top Gainers dan Losers

Beberapa saham menonjol sebagai top gainers, antara lain HITS (naik 24,35 persen), POLU (naik 16,02 persen), DCII (naik 15,11 persen), KDTN (naik 12,17 persen), dan UVCR (naik 11,63 persen). Penguatan signifikan ini mencerminkan sentimen positif yang spesifik pada saham-saham tersebut, dan perlu dikaji lebih dalam faktor penyebabnya.

Di sisi lain, beberapa saham masuk dalam daftar top losers, di antaranya FORU (turun 22,22 persen), BINO (turun 21,02 persen), RONY (turun 14,91 persen), INDR (turun 13,96 persen), dan DAYA (turun 13,78 persen). Penurunan tajam ini menunjukkan adanya tekanan jual yang signifikan terhadap saham-saham tersebut, yang kemungkinan besar disebabkan oleh berbagai faktor seperti fundamental perusahaan, sentimen pasar, atau faktor eksternal lainnya.

Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi perdagangan meliputi BBCA (15.806 kali), BBRI (8.167 kali), BMRI (5.940 kali), SSIA (5.549 kali), dan MINA (5.271 kali). Sementara itu, saham-saham teraktif berdasarkan nilai transaksi meliputi BBCA (Rp 615,1 miliar), BMRI (Rp 236,6 miliar), BBRI (Rp 207,5 miliar), BBNI (Rp 85,1 miliar), dan TPIA (Rp 74,7 miliar).

Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas

BNI Sekuritas memprediksi potensi rebound teknikal IHSG setelah rebalancing FTSE pada Jumat lalu. Mereka memberikan support IHSG di kisaran 6.150-6.200 dan resistance di 6.300-6.400. Perlu dicatat bahwa prediksi ini hanya bersifat analisa teknikal, dan tidak menjamin akurasi.

BNI Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk diperdagangkan, antara lain AMRT, PTRO, ISAT, BRMS, BBCA, dan BBNI. Mereka memberikan strategi perdagangan spesifik untuk masing-masing saham, termasuk titik beli (buy area), titik stop loss (cutloss), dan target harga jangka pendek (short term). Investor perlu mempertimbangkan dengan cermat rekomendasi ini dan melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.

Sebagai catatan, informasi di atas berdasarkan data yang tersedia pada tanggal 24 Maret 2025 dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pasar saham memiliki sifat yang fluktuatif dan berisiko, sehingga investor perlu melakukan analisis risiko dan diversifikasi portofolio investasi. Konsultasikan dengan profesional keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Also Read

Tags