Kolak Ayam Gresik: Sejarah, Rasa, dan Tradisi Uniknya

Cacing X

Kolak, hidangan manis khas Indonesia, biasanya berisi pisang atau umbi-umbian. Namun, di Desa Gumeno, Gresik, Jawa Timur, terdapat tradisi unik: kolak ayam. Warga setempat mencampurkan potongan ayam ke dalam kuah kolak yang manis dan gurih. Tradisi ini, yang disebut “sanggring”, telah berlangsung selama ratusan tahun dan menyimpan sejarah yang menarik.

Tradisi Kolak Ayam Sanggring: Lebih dari Sekedar Hidangan Buka Puasa

Tradisi kolak ayam atau sanggring dilakukan setiap malam ke-23 Ramadan di Masjid Jami Sunan Dalem, Desa Gumeno. Lebih dari sekadar hidangan buka puasa, kolak ayam dipercaya masyarakat setempat memiliki khasiat pengobatan tradisional. Resep turun-temurun ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Proses pembuatan kolak ayam sanggring masih menggunakan cara tradisional, mengikuti petunjuk yang diwariskan dari Sunan Dalem. Bahan-bahannya pun sederhana: gula merah, jinten, bawang daun, kelapa, air, dan tentu saja, ayam. Uniknya, seluruh proses pembuatan, mulai dari memasak hingga penyajian, dilakukan oleh laki-laki.

Tahun 2023, Ketua Panitia Tradisi Kolak Ayam, Suudin, menjelaskan bahwa resep ini tetap dijaga keasliannya. Mereka menjaga agar proses pembuatan tetap sesuai dengan tradisi leluhur. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi masyarakat Gumeno.

Asal Usul Tradisi Kolak Ayam: Legenda Sunan Dalem

Tradisi ini bermula pada tahun 946 H (31 Januari 1540 M), berkaitan erat dengan Sunan Dalem, putra sekaligus penerus Sunan Giri. Nama masjid tempat tradisi ini dilangsungkan pun diambil dari namanya, Masjid Jami’ Sunan Dalem.

Konon, Sunan Dalem jatuh sakit saat pembangunan masjid berlangsung. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun tak membuahkan hasil. Dalam mimpinya, Sunan Dalem mendapat petunjuk ilahi untuk membuat suatu hidangan sebagai obat.

Petunjuk tersebut mengarahkan pada pembuatan kolak ayam. Warga kemudian mencari ayam jago berusia satu tahun dan bahan-bahan lain, lalu memasak sesuai petunjuk. Setelah kolak selesai, Sunan Dalem menyantapnya dan pulih dari penyakitnya.

Sejak saat itu, tradisi kolak ayam sebagai menu buka puasa di Masjid Sunan Dalem dimulai. Kisah ini menunjukkan bahwa kolak ayam bukan sekadar hidangan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan historis yang tinggi bagi masyarakat Gumeno.

Makna Sanggring dan Perbedaan dengan Kolak Biasa

Nama “sanggring” berasal dari kata “sang” (raja/yang mulia) dan “gring” (sakit), menunjukkan makna kesembuhan bagi sang raja yang sakit. Kolak ayam berbeda dari kolak kebanyakan yang biasanya menggunakan pisang atau umbi-umbian sebagai bahan utamanya. Kolak ayam sanggring memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi bahan maupun proses pembuatannya.

Tradisi ini menjadi simbol kekayaan budaya Gresik dan Jawa Timur. Keunikan kolak ayam sanggring menunjukkan keberagaman kuliner Indonesia. Tradisi ini juga menunjukkan betapa kearifan lokal tetap lestari dan diwariskan turun-temurun.

Kolak ayam sanggring tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Gumeno. Tradisi ini menunjukkan ketahanan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Also Read