Krisis BBM Lembata: Pertamina Mohon Maaf atas Kesulitan Warga

Kekurangan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa hari lalu telah menimbulkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina 56.866.04. Kejadian ini terjadi pada Jumat dan Sabtu, 7 dan 8 Maret 2025, dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat.

PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus melalui Area Manager Communication, Relations, and CSR, Ahad Rahedi, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Antrean panjang disebabkan oleh kerusakan pompa dispenser untuk Pertalite dan Pertamax di SPBU 56.866.04, sehingga SPBU tersebut terpaksa berhenti beroperasi sementara.

Akibatnya, masyarakat terpaksa mengantre di SPBU terdekat. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan SPBU yang menjual Pertalite di Lembata. SPBU 56.862.01 terdekat hanya menjual Pertamax, sementara SPBU 56.862.03 terletak jauh dari pusat kota.

Sebagai respons atas kejadian ini, Pertamina segera melakukan beberapa langkah. Tim Pertamina Patra Niaga Sales Area NTT berkoordinasi dengan pihak SPBU untuk mempercepat perbaikan pompa dispenser yang rusak. Selain itu, Pertamina juga menambah stok BBM ke seluruh SPBU di Lembata untuk meningkatkan ketahanan stok harian.

Pertamina juga menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan aparat penegak hukum untuk menjaga kondusivitas wilayah. Pertamina berharap SPBU 56.866.04 dapat beroperasi kembali sesegera mungkin agar situasi kembali normal.

Di Kabupaten Lembata terdapat empat SPBU, yaitu 56.862.01, 56.862.03, 56.862.04, dan 56.866.04. Kejadian ini berdampak langsung pada masyarakat yang mengandalkan SPBU 56.866.04, memaksa mereka untuk beralih ke SPBU lain, yang menyebabkan antrean panjang di SPBU 56.862.04.

Dampak Kerusakan Pompa Dispenser

Kerusakan pompa dispenser di SPBU 56.866.04 berdampak signifikan pada ketersediaan BBM di Lembata. Hal ini menyebabkan kelangkaan BBM dan melonjaknya harga jual BBM eceran di Kota Lewoleba. Harga BBM eceran dilaporkan mencapai Rp 50.000 per botol, naik sekitar Rp 40.000 – Rp 50.000 dari harga normal. Kondisi ini berlangsung selama beberapa hari.

Rikardus Bala, warga Lembata, membenarkan kenaikan harga tersebut. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga BBM eceran sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan BBM yang terjamin untuk stabilitas harga dan perekonomian di daerah.

Langkah-Langkah Antisipatif Pertamina

Pertamina telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini, meliputi perbaikan pompa dispenser yang rusak, penambahan stok BBM di seluruh SPBU Lembata, serta koordinasi dengan pemda dan aparat penegak hukum. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan BBM dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Pertamina juga menghimbau masyarakat yang membutuhkan informasi seputar produk dan layanan Pertamina untuk menghubungi call center di nomor 135. Transparansi informasi dan komunikasi yang baik sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Analisis dan Rekomendasi

Kejadian ini menyoroti pentingnya pemeliharaan rutin dan sistem perawatan yang efektif untuk infrastruktur SPBU Pertamina. Sistem pengawasan dan perawatan yang lebih ketat perlu diimplementasikan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang berdampak luas pada masyarakat.

Selain itu, perlu dikaji ulang strategi distribusi BBM di daerah-daerah terpencil seperti Lembata untuk memastikan ketersediaan BBM yang memadai dan mencegah disparitas harga yang signifikan. Diversifikasi jalur distribusi dan penambahan SPBU di lokasi strategis dapat menjadi pertimbangan.

Ke depan, Pertamina perlu meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan strategi tanggap darurat yang efektif dalam menghadapi kejadian serupa. Hal ini akan meminimalkan dampak negatif terhadap masyarakat.

Exit mobile version