Di Dusun Lemo Tua, Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terdapat sebuah kampung unik yang telah menjelma menjadi pusat pelatihan para da’i cilik. Inisiatif inspiratif ini telah berhasil menyulap sebuah dusun sederhana menjadi kampung dakwah yang mencetak generasi muda penghafal dan penyebar literasi Islam.
Program ini mengumpulkan anak-anak dari berbagai masjid di wilayah tersebut. Mereka dilatih secara intensif untuk menjadi da’i-da’i cilik yang handal dan mampu menyampaikan pesan-pesan agama Islam dengan efektif dan mudah dipahami. Pelatihan ini diberikan jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, memastikan para peserta siap berdakwah selama bulan suci.
Para da’i cilik ini tidak hanya belajar menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis. Mereka juga dilatih keterampilan public speaking, cara bersikap di mimbar, hingga teknik menyampaikan pesan dakwah yang menarik dan efektif bagi berbagai kalangan usia. Kurikulum pelatihan ini dirancang untuk membentuk para da’i cilik yang profesional dan percaya diri.
Metode Pelatihan yang Komprehensif
Metode pengajaran yang digunakan sangatlah komprehensif. Para guru yang berpengalaman dan profesional secara sukarela membimbing para peserta. Pelatihan dilakukan secara gratis dan menekankan pada praktik langsung, sehingga para da’i cilik dapat mengasah kemampuan mereka dengan optimal.
Selain praktik berdakwah, para peserta juga diajarkan pentingnya memahami konteks jemaah dan cara berinteraksi dengan mereka. Ini termasuk pentingnya menyesuaikan penyampaian materi agar mudah dipahami oleh berbagai latar belakang dan tingkat pemahaman.
Setelah menyelesaikan pelatihan dan dinyatakan memenuhi kriteria yang telah ditentukan, para da’i cilik ini kemudian didistribusikan ke berbagai masjid di Polewali Mandar untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari. Mereka menjadi bagian penting dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di komunitas masing-masing.
Dampak Positif Kampung Dakwah
Kampung dakwah ini telah memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi para da’i cilik, tetapi juga bagi masyarakat luas. Kampung ini sering diundang untuk mengisi acara keagamaan di berbagai masjid di sekitarnya.
Salah satu peserta, Rifka Adeliani, berbagi pengalamannya. Ia merasakan manfaat yang luar biasa dari pelatihan ini, terutama dalam hal peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi. Rifka merasa senang dapat belajar dari para guru yang berpengalaman, dan ia bertekad untuk terus belajar dan menyebarkan pesan-pesan kebaikan.
Keberhasilan kampung dakwah ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan komitmen yang kuat, kita dapat mencetak generasi muda yang religius, berwawasan luas, dan mampu menjadi agen perubahan positif di masyarakat. Inisiatif ini patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membina generasi muda yang berakhlak mulia.
Keberlanjutan dan Pengembangan
Untuk keberlanjutan program ini, perlu adanya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah, lembaga keagamaan, maupun masyarakat. Penting juga untuk terus mengembangkan kurikulum pelatihan agar tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Pengembangan dapat meliputi penambahan materi pelatihan, seperti penggunaan media sosial untuk dakwah, serta peningkatan kemampuan literasi digital para da’i cilik. Dengan demikian, mereka dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama di era digital saat ini.
Kampung dakwah di Polewali Mandar ini tidak hanya sekadar mencetak da’i cilik, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama. Ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan agama yang berkualitas dapat melahirkan generasi muda yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.