Ngiler Lihat Makanan Lezat? Sains Ungkap Rahasianya

Pernahkah Anda mengalami situasi di mana melihat makanan tertentu, entah melalui video, foto, atau bahkan hanya membayangkannya, langsung membuat mulut Anda berair? Fenomena ini, yang sering kita alami, ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang menarik.

Bukan hanya saat menonton tayangan mukbang, melihat gambar makanan yang menggugah selera atau sekadar memikirkannya saja sudah cukup untuk memicu produksi air liur. Air liur, atau saliva, memiliki banyak fungsi penting dalam proses pencernaan, dan salah satunya adalah melumasi makanan agar mudah dikunyah dan ditelan.

Saliva juga membantu kita merasakan cita rasa makanan. Kandungan enzim di dalamnya bahkan memulai proses pencernaan sebelum makanan masuk ke dalam lambung. Proses produksi air liur ini dikendalikan oleh sistem saraf otonom, artinya terjadi secara otomatis tanpa kita sadari.

Mekanisme Produksi Air Liur

Stimulus seperti aroma, rasa, atau bahkan gerakan mengunyah dapat memicu produksi air liur. Ketika kita melihat, mencium, atau membayangkan makanan, otak mengirimkan sinyal ke pusat saliva utama di medula oblongata, bagian batang otak yang bertanggung jawab atas fungsi otomatis tubuh.

Otak kemudian melepaskan neurotransmiter seperti asetilkolin dan norepinefrin. Neurotransmiter ini berperan sebagai pembawa pesan kimiawi yang mengaktifkan saraf dan memerintahkan kelenjar ludah untuk menghasilkan air liur.

Kelenjar ludah utama terletak di tiga area utama: dekat gigi atas, di bawah lidah, dan di dasar mulut. Selain itu, terdapat juga kelenjar ludah minor yang tersebar di bibir, pipi bagian dalam, serta lapisan mulut dan tenggorokan.

Jenis-jenis Air Liur dan Perannya

Air liur terbagi menjadi dua jenis utama: lendir (mukus) dan serosa. Air liur lendir bersifat kental dan lengket, kaya akan mukus yang berfungsi sebagai pelumas. Sementara itu, air liur serosa lebih encer dan hampir seluruhnya terdiri dari air.

Air liur serosa inilah yang biasanya membanjiri mulut ketika kita melihat, mencium, atau memikirkan makanan yang lezat. Sensasi “ngiler” atau mouth watering dalam bahasa Inggris, menggambarkan kondisi di mana mulut dipenuhi oleh air liur serosa ini.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Air Liur

Selain melihat, mencium, dan membayangkan makanan, beberapa faktor lain juga dapat mempengaruhi produksi air liur. Kondisi kesehatan seseorang, misalnya, dapat berpengaruh. Dehidrasi, misalnya, dapat mengurangi produksi air liur.

Obat-obatan tertentu juga bisa menyebabkan mulut kering (xerostomia), sehingga mengurangi produksi air liur. Stres dan kecemasan juga bisa mempengaruhi produksi air liur, kadang-kadang menyebabkan mulut terasa kering.

Umur juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, produksi air liur biasanya berkurang, sehingga orang lanjut usia lebih rentan mengalami mulut kering.

Kesimpulan

Jadi, “ngiler” saat melihat makanan bukanlah sekadar reaksi biasa, melainkan proses fisiologis kompleks yang melibatkan sistem saraf, otak, dan kelenjar ludah. Pemahaman tentang mekanisme ini membantu kita menghargai kompleksitas tubuh kita dan bagaimana indra kita berperan dalam mempersiapkan tubuh untuk proses pencernaan.

Kemampuan tubuh untuk memproduksi air liur sebagai respons terhadap rangsangan visual, penciuman, dan bahkan pikiran tentang makanan merupakan bukti betapa canggihnya desain tubuh manusia. Ini juga menunjukkan hubungan erat antara pikiran, indra, dan fisiologi tubuh.

Exit mobile version