Hamas mendesak percepatan perundingan gencatan senjata tahap kedua dengan Israel. Perundingan yang akan melibatkan perwakilan dari kedua belah pihak ini akan difokuskan pada kembalinya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Menurut laporan detikcom, telah terjadi beberapa pertemuan langsung antara Hamas dan pejabat AS di Doha. Hal ini menjadi indikasi kuat adanya upaya diplomasi intensif untuk mengakhiri konflik.
Delegasi tingkat tinggi Hamas menekankan perlunya segera memulai perundingan tahap kedua guna meletakkan dasar bagi gencatan senjata permanen. Mereka berharap perundingan ini akan menghasilkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.
Tuntutan utama Hamas dalam perundingan ini meliputi penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, diakhirinya blokade, rekonstruksi wilayah yang hancur, dan dukungan finansial untuk pembangunan kembali.
Juru bicara Hamas, Abdel Latif Al-Qanoua, menyatakan optimisme terhadap perkembangan positif yang telah dicapai sejauh ini. Pernyataan ini menunjukkan adanya harapan akan tercapainya kesepakatan damai.
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mengonfirmasi pengiriman delegasi ke Doha untuk mengikuti perundingan. Langkah ini menunjukan komitmen Israel untuk terlibat dalam proses perdamaian.
Israel sebelumnya telah menyatakan keinginan untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata hingga pertengahan April. Fase pertama gencatan senjata telah menghasilkan pertukaran tawanan yang signifikan.
Fase pertama gencatan senjata yang berakhir pada 1 Maret lalu telah menandai periode relatif tenang selama enam minggu setelah konflik berkepanjangan. Pertukaran 25 sandera hidup dan 8 jenazah dengan sekitar 1.800 tahanan Palestina merupakan pencapaian penting.
Gencatan senjata tersebut telah menghentikan pertempuran di Gaza yang telah berlangsung selama lebih dari 15 bulan. Konflik ini telah menyebabkan pengungsian hampir seluruh penduduk Gaza akibat serangan militer Israel sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Negosiasi Pembebasan Sandera
Amerika Serikat (AS) dan Hamas juga melakukan pembicaraan langsung terkait pembebasan sandera yang ditahan di Gaza. Israel telah dilibatkan dalam konsultasi mengenai negosiasi ini.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa seorang utusan AS berbicara langsung dengan Hamas untuk mengamankan sandera Amerika. Pemerintah AS menganggap langkah ini sebagai upaya yang tepat dalam melindungi warganya.
“Israel telah diajak berkonsultasi mengenai masalah ini, dan lihat, dialog dan berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan terbaik rakyat Amerika adalah sesuatu yang menurut Presiden benar,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Utusan sandera AS, Adam Boehler, diberi wewenang penuh untuk bernegosiasi dengan pihak mana pun. Prioritas utama adalah menyelamatkan nyawa warga negara Amerika yang disandera.
“Ada nyawa orang Amerika yang dipertaruhkan,” tegas Leavitt.
Pejabat Hamas membenarkan adanya pembicaraan langsung dengan utusan AS. Mereka membahas pembebasan sandera Israel yang memiliki kewarganegaraan Amerika, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
Seorang pejabat senior Hamas menambahkan bahwa telah terjadi dua pertemuan langsung antara Hamas dan pejabat AS di Doha dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menandakan intensitas negosiasi yang sedang berlangsung.
Peran AS dalam Negosiasi
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan langsung dengan Hamas untuk membantu pembebasan sandera yang tersisa di Jalur Gaza. Pernyataan ini mengkonfirmasi laporan sebelumnya tentang keterlibatan utusan khusus AS.
“Kami tengah berdiskusi dengan Hamas. Kami sedang membantu Israel dalam diskusi tersebut, karena kami sedang membicarakan tentang para sandera Israel,” kata Trump.
Keterlibatan AS dalam negosiasi ini menunjukkan peran penting Amerika Serikat dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina. Dukungan AS diharapkan dapat mendorong tercapainya kesepakatan yang adil dan berkelanjutan.
Perkembangan terkini ini menunjukkan kompleksitas situasi di lapangan, yang membutuhkan upaya diplomasi yang cermat dan komprehensif dari semua pihak yang terlibat. Semoga proses negosiasi ini dapat menghasilkan solusi yang mengakhiri konflik dan membawa perdamaian bagi seluruh pihak.