PSS Sleman kembali menelan pil pahit setelah kalah telak 1-4 dari Persis Solo dalam laga Liga 1 2024/2025 di Stadion Jatidiri, Semarang. Kekalahan ini semakin mempersulit posisi Super Elja yang masih terjebak di zona degradasi.
Pertandingan tersebut diwarnai absennya pendukung setia PSS, Brigata Curva Sud, akibat masalah perizinan. Meskipun demikian, PSS sempat unggul cepat lewat gol Nicolao Cardoso di menit ke-12. Keunggulan ini sayangnya tak bertahan lama.
Persis Solo tampil dominan di babak kedua. Empat gol balasan dicetak oleh John Cley (menit 57), Lautaro Bellegia (menit 67), dan dua gol dari Moussa Sidibe (menit 79 dan 90+6). Pertahanan PSS yang rapuh menjadi biang keladi kekalahan ini.
Analisis Kekalahan PSS Sleman
Pelatih PSS, Pieter Huistra, mengakui kekecewaannya. Ia menyebut timnya bermain baik di babak pertama, menguasai permainan dan menciptakan peluang. Namun, kebobolan dari situasi bola mati menjadi titik balik pertandingan.
Gol kedua Persis yang tercipta dengan mudah semakin memperburuk keadaan. Upaya PSS untuk menyerang balik justru membuka celah bagi Persis untuk melancarkan serangan balik yang efektif. Ketajaman lini depan Persis, khususnya Sidibe, menjadi momok bagi pertahanan Super Elja.
Huistra mengakui strategi bermain lebih terbuka setelah tertinggal justru menjadi bumerang. Ia menyadari bahwa timnya mengambil risiko yang berujung pada kekalahan telak. Pengambilan keputusan ini perlu dievaluasi untuk pertandingan selanjutnya.
Kelemahan Pertahanan dan Strategi yang Salah
Kehilangan kendali di babak kedua diakui Huistra sebagai akibat dari kesalahan dalam bertahan. Timnya kehilangan fokus dan organisasi pertahanan setelah gol pertama Persis. Hal ini menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera diperbaiki.
Inkonsistensi penampilan PSS Sleman juga menjadi sorotan. Setelah memutus tren enam kekalahan beruntun dengan kemenangan atas Persita Tangerang, PSS kembali menunjukkan performa yang inkonsisten. Hal ini menunjukan masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.
Meskipun kecewa, Huistra menekankan pentingnya menjaga semangat tim dan memanfaatkan waktu jeda kompetisi untuk berbenah. Ia berharap timnya dapat kembali fokus dan memperbaiki kelemahan yang ada sebelum pertandingan selanjutnya.
Tanggapan Pemain dan Jalan ke Depan
Wahyudi Hamisi, gelandang PSS, turut mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengakui kesalahan tim dalam memberikan gol mudah kepada Persis. Ia berharap jeda internasional dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kekurangan tim.
Jeda kompetisi selama tiga pekan diharapkan dapat menjadi waktu yang efektif bagi PSS untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Perbaikan taktik, strategi, dan mental pemain menjadi kunci untuk bangkit dari keterpurukan dan keluar dari zona degradasi.
Persis Solo sendiri kini berada di peringkat ke-14 dengan 26 poin, sementara PSS Sleman masih tertahan di posisi ke-17 dengan 22 poin. Perjuangan PSS untuk bertahan di Liga 1 masih sangat berat dan membutuhkan kerja keras dari seluruh elemen tim.
Untuk memperbaiki performa, PSS perlu fokus pada beberapa hal. Pertama, memperkuat pertahanan agar tidak mudah kebobolan. Kedua, meningkatkan efektifitas serangan agar mampu mencetak lebih banyak gol. Terakhir, meningkatkan mentalitas para pemain agar lebih percaya diri dan konsisten.
Ke depannya, dibutuhkan kerja keras dan strategi yang matang dari pelatih dan manajemen untuk membawa PSS Sleman keluar dari zona degradasi. Dukungan dari suporter juga sangat penting untuk memberikan semangat bagi para pemain.