Samsung menghadapi tantangan besar dalam pengembangan chip Exynos. Setelah proyek Exynos 2500 mengalami kendala produksi yang signifikan, perusahaan kini fokus pada penerus chip tersebut, yaitu Exynos 2600.
Exynos 2500, yang awalnya ditujukan untuk seri Galaxy S25, mengalami tingkat keberhasilan produksi yang sangat rendah. Hal ini memaksa Samsung Foundry untuk menunda produksi massal dan mencari solusi untuk meningkatkan yield (tingkat keberhasilan produksi) chip 3nm tersebut. Akibatnya, Exynos 2500 kemungkinan besar akan digunakan pada perangkat lain, seperti Galaxy Z Flip 7, bukan pada flagship Galaxy S25.
Sebagai gantinya, Samsung kini mengalihkan perhatian pada Exynos 2600. Chip ini direncanakan untuk digunakan pada Galaxy S26 dan Galaxy S26+, namun hanya untuk pasar di luar Amerika Serikat, China, dan Kanada. Samsung membentuk tim khusus untuk memastikan Exynos 2600 memiliki performa dan proses produksi yang optimal.
Tantangan Produksi Chip 2nm
Exynos 2600 akan diproduksi menggunakan node SF2 2nm milik Samsung Foundry. Meskipun teknologi 2nm menjanjikan peningkatan performa yang signifikan, proses produksinya jauh lebih kompleks dan rumit daripada teknologi 3nm.
Salah satu tantangan utama dalam produksi chip adalah tingkat keberhasilan atau yield. Dari sebuah silicon wafer yang besar, hanya sebagian chip yang memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Samsung Foundry menargetkan yield 60%-70% untuk produksi massal, namun pada bulan Februari 2025, yield untuk chip 2nm baru mencapai 30%. Ini menunjukkan masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Samsung menargetkan produksi Exynos 2600 dimulai pada Mei 2025. Namun, keputusan akhir mengenai penggunaan Exynos 2600 pada seri Galaxy S26 akan diambil pada akhir tahun 2025. Keputusan ini akan sangat bergantung pada keberhasilan peningkatan yield chip 2nm.
Implikasi Bagi Samsung dan Pasar Smartphone
Kegagalan Exynos 2500 dan tantangan produksi Exynos 2600 menimbulkan beberapa implikasi penting. Pertama, ini menunjukkan bahwa Samsung masih menghadapi kesulitan dalam bersaing dengan TSMC, yang saat ini memimpin pasar pembuatan chip dengan teknologi canggih dan tingkat yield yang lebih tinggi.
Kedua, ketergantungan Samsung pada chip Exynos untuk flagship mereka terancam. Jika Exynos 2600 tidak memenuhi harapan, Samsung mungkin kembali menggunakan chip Qualcomm Snapdragon untuk seri Galaxy S di beberapa pasar, seperti yang telah terjadi pada beberapa model Galaxy S23.
Ketiga, kejadian ini menunjukkan betapa kompleks dan menantang pengembangan teknologi chip generasi berikutnya. Tingkat keberhasilan produksi yang rendah berdampak langsung pada biaya produksi dan ketersediaan produk.
Teknologi Produksi Chip dan Masa Depan
Proses pembuatan chip melibatkan langkah-langkah yang sangat kompleks dan presisi tinggi. Setiap ketidaksempurnaan dalam proses tersebut dapat menyebabkan chip yang cacat dan tidak berfungsi. Peningkatan yield membutuhkan optimasi seluruh proses, mulai dari desain chip hingga peralatan fabrikasi.
Kemajuan dalam teknologi produksi chip sangat penting untuk pengembangan berbagai perangkat elektronik, termasuk smartphone, komputer, dan kendaraan otonom. Persaingan di antara produsen chip seperti Samsung dan TSMC akan terus berlanjut, dengan masing-masing perusahaan berupaya untuk menguasai teknologi terdepan dan meningkatkan efisiensi produksi.
Keberhasilan Samsung dalam meningkatkan yield Exynos 2600 akan menjadi penentu penting bagi masa depan strategi chip mereka dan daya saing mereka di pasar smartphone global yang kompetitif.
Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti kompleksitas dan tantangan dalam pengembangan teknologi chip tingkat lanjut. Kesuksesan Samsung dalam mengatasi masalah yield Exynos 2600 akan menjadi faktor kunci dalam menentukan posisi kompetitif mereka di industri smartphone.