Tasyi Athasyia Tinggalkan Media Sosial, Polemik Bika Ambon Tutup Babak Baru

Cacing X

Food vlogger Tasyi Athasyia mengumumkan pengunduran dirinya sementara dari media sosial. Pengumuman ini disampaikan melalui akun Instagram pribadinya, @Tasyiiathasyia, setelah dirinya dituduh menjatuhkan bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tertentu.

Dalam unggahannya pada Minggu, 9 Maret 2025, Tasyi menyatakan haknya untuk menjelaskan berbagai tuduhan dan opini yang telah beredar. Ia merasa difitnah dan menjadi korban penggiringan opini publik.

Di akhir unggahan tersebut, Tasyi meminta izin untuk rehat sejenak dari media sosial. Ia mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa yang telah diterimanya dari para pengikutnya. Ia juga menyampaikan permohonan maaf.

Tasyi memberikan klarifikasi atas tudingan yang menyebut dirinya menjatuhkan produk UMKM. Ia membantah keras tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa selama lebih dari 5 tahun berkarier sebagai food vlogger, ia telah mempromosikan banyak UMKM tanpa meminta bayaran.

Ia menantang publik untuk menanyakan langsung kepada para pelaku UMKM yang pernah dibantunya. Ia menekankan bahwa kegiatan promosi UMKM yang dilakukannya merupakan bentuk kepedulian dan bukan sebagai strategi bisnis yang terselubung.

Tasyi mengungkapkan kekecewaannya atas tudingan tersebut. Ia mempertanyakan sikap publik yang terburu-buru menilai tanpa memahami konteks dan latar belakang kejadian sebenarnya. Ia juga mempertanyakan motif dibalik persepsi negatif tersebut.

Unggahan Tasyi tersebut hingga Kamis, 13 Maret 2025, telah mendapatkan lebih dari 43.386 likes dan lebih dari 3.000 komentar. Hal ini menunjukkan besarnya atensi publik terhadap polemik yang melibatkannya.

Polemik Bika Ambon dan Tudingan Black Campaign

Polemik ini bermula dari komentar Tasyi terkait sebuah produk bika ambon. Komentar tersebut kemudian ditafsirkan oleh sebagian pihak sebagai upaya menjatuhkan produk tersebut. Tuduhan ini kemudian berkembang menjadi isu yang lebih besar, melibatkan berbagai pihak dan opini publik yang terpecah.

Menanggapi hal ini, Tasyi telah melaporkan dua akun TikTok, @sxxxx dan @bxxxx, ke pihak berwajib atas dugaan pencemaran nama baik melalui media elektronik. Laporan tersebut didasarkan pada penyebaran informasi yang dianggap tidak benar dan merugikan nama baiknya.

Pihak kepolisian telah menerima laporan tersebut dan tengah melakukan proses penyelidikan lebih lanjut. Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan diskusi mengenai batasan kebebasan berekspresi di media sosial dan dampaknya terhadap pelaku UMKM.

Dampak Polemik Terhadap UMKM dan Influencer

Polemik ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai tanggung jawab influencer dalam mempromosikan produk, khususnya produk UMKM. Di satu sisi, influencer memiliki peran penting dalam meningkatkan visibilitas produk UMKM. Di sisi lain, mereka juga harus berhati-hati dalam memberikan ulasan atau komentar, guna menghindari kesalahpahaman dan tudingan negatif.

Kejadian ini juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Informasi yang beredar di media sosial perlu diverifikasi kebenarannya sebelum dibagikan lebih lanjut, guna mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan dan merugikan pihak lain.

Ke depannya, perlu adanya regulasi yang lebih jelas terkait tanggung jawab influencer dan perlindungan bagi UMKM dari dampak negatif penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab di media sosial. Hal ini penting untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan bagi kedua pihak.

Lebih lanjut, kasus ini juga menjadi pembelajaran berharga bagi para pelaku usaha, terutama UMKM, untuk membangun citra positif dan ketahanan bisnis menghadapi opini publik yang dinamis di era digital. Strategi komunikasi dan manajemen krisis menjadi hal yang krusial dalam menghadapi tantangan tersebut.

Also Read