Pada 17 Mei 1995, tragedi memilukan mencoreng kemenangan Persebaya Surabaya atas PSIS Semarang. Ribuan Bonek, pendukung setia Persebaya, memenuhi jalanan Surabaya dengan euforia yang membuncah setelah pertandingan. Mereka berbondong-bondong pulang dengan semangat tinggi.
Namun, perjalanan pulang berubah menjadi duka. Sebuah truk yang mengangkut banyak Bonek terguling karena kelebihan muatan. Insiden ini menewaskan dan melukai banyak suporter, mencoreng euforia kemenangan yang baru saja diraih.
Fotografer Jawa Pos, Sholihuddin, secara kebetulan berada di lokasi kejadian. Ia berhasil mengabadikan momen dramatis tersebut dalam sebuah foto yang kemudian memenangkan penghargaan World Press Photo 1995 kategori spot news. Foto ini menjadi ikonik dan abadi dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Tragedi Truk Bonek: Sebuah Kisah Pilu di Balik Euforia Kemenangan
Sholihuddin, dengan insting jurnalistiknya yang tajam, memilih titik pengambilan gambar yang strategis di depan Mapolsekta Genteng. Dari sana, ia menyaksikan truk yang penuh sesak—istilah “munjung” dalam bahasa Jawa menggambarkan kondisi ini— kehilangan keseimbangan dan terguling.
Kejadian ini terjadi karena Kodam V/Brawijaya dan Polda Jatim saat itu menyediakan truk untuk mengangkut suporter pulang. Namun, antusiasme Bonek yang melimpah ruah membuat kapasitas truk jauh terlampaui. Ketiadaan manajemen transportasi yang baik menjadi penyebab utama tragedi ini.
Foto Sholihuddin menggambarkan kepanikan dan kekacauan di lokasi kejadian. Bonek berdesakan dan berteriak histeris. Gambar tersebut menjadi pengingat penting tentang keselamatan dan manajemen massa dalam acara besar, khususnya pertandingan sepak bola.
Dampak Tragedi dan Pelajaran Berharga
Tragedi ini bukan hanya menelan korban jiwa dan luka, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi para saksi dan keluarga korban. Kemenangan Persebaya di lapangan menjadi tidak berarti dibandingkan dengan duka cita yang mendalam akibat insiden ini.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara pertandingan, aparat keamanan, dan suporter sendiri. Perencanaan yang matang, manajemen transportasi yang efektif, dan kesadaran akan pentingnya keselamatan adalah kunci untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Meskipun sudah hampir tiga dekade berlalu, tragedi ini masih diingat dan dipelajari. Foto Sholihuddin berfungsi sebagai monumen peringatan akan pentingnya keselamatan dan tanggung jawab bersama dalam mendukung tim kesayangan.
Pertemuan Ulang Persebaya dan PSIS: Mengingat Masa Lalu, Menuju Masa Depan yang Lebih Baik
Pada pekan ke-27 Liga 1 Indonesia 2024/2025, Persebaya Surabaya kembali berhadapan dengan PSIS Semarang. Pertandingan ini menjadi momen nostalgia sekaligus ujian bagi semua pihak untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan suporter.
Pertemuan kedua tim ini mengingatkan kita akan sejarah panjang rivalitas yang penuh gairah, namun juga tragedi yang tak boleh terulang. Semoga pertandingan kali ini berlangsung aman dan lancar, dengan suporter yang menikmati pertandingan dengan penuh tanggung jawab.
Euforia memang penting dalam sepak bola, namun keselamatan dan keamanan harus diprioritaskan. Pertandingan sepak bola seharusnya menyatukan, bukan memisahkan dalam kesedihan. Semoga kejadian 1995 menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi Persebaya dan PSIS, tetapi untuk seluruh dunia sepak bola Indonesia.
Mari kita ciptakan atmosfer sepak bola yang positif, penuh semangat, namun juga bertanggung jawab. Dukungan yang penuh gairah harus diiringi dengan kesadaran akan keselamatan bersama. Rivalitas boleh ada, namun kebersamaan dan keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama.
Semoga Persebaya dan PSIS dapat memberikan pertandingan yang menghibur dan berkesan, serta suporter dapat menikmati laga tersebut dengan aman dan nyaman. Semoga kenangan pahit masa lalu menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan tanggung jawab bersama dalam dunia sepak bola.