Trauma Penis: Mitos, Fakta, dan Perawatan Medis yang Diperlukan

Penis patah, atau fraktur penis, merupakan kondisi medis darurat yang ditandai dengan robekan pada tunica albuginea, lapisan jaringan yang membungkus corpora cavernosa di dalam penis. Ini adalah kondisi yang jarang terjadi, tetapi memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi serius dan permanen.

Apa itu Penis Patah?

Fraktur penis terjadi ketika penis yang ereksi mengalami pembengkokan atau trauma secara tiba-tiba, menyebabkan robekan pada tunica albuginea. Robeknya lapisan ini mengakibatkan darah bocor keluar dari corpora cavernosa, menyebabkan bengkak, memar, dan nyeri hebat. Dalam beberapa kasus, uretra (saluran kemih) juga bisa mengalami cedera, sehingga menyebabkan darah keluar dari uretra.

Meskipun jarang, kondisi ini merupakan darurat medis karena potensi kerusakan permanen pada fungsi ereksi. Penting untuk segera mencari perawatan medis jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada fraktur penis.

Gejala Penis Patah

Gejala utama fraktur penis adalah nyeri hebat dan mendadak pada penis saat ereksi. Nyeri ini biasanya disertai dengan suara “patah” atau “retak” pada saat cedera terjadi. Selain itu, Anda mungkin mengalami:

  • Hilangnya ereksi secara tiba-tiba.
  • Bengkak dan memar pada penis.
  • Perubahan warna pada penis (misalnya, kebiruan atau keunguan) akibat perdarahan di bawah kulit.
  • Keluarnya darah dari uretra (jika uretra juga cedera).

Penting untuk diingat bahwa setiap individu dapat mengalami gejala dengan intensitas yang berbeda. Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas, segera cari pertolongan medis.

Penyebab Penis Patah

Penyebab utama fraktur penis adalah trauma fisik pada penis yang sedang ereksi. Trauma ini dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:

  • Posisi seks tertentu, terutama posisi wanita di atas (woman on top), di mana penis dapat tertekuk secara tiba-tiba dan kuat.
  • Pukulan langsung ke penis yang ereksi akibat kecelakaan atau cedera lainnya.
  • Masturbasi yang terlalu agresif atau kasar.
  • Akibat aktivitas seksual anal.
  • Tergulung di atas penis yang ereksi saat tidur.

Pada beberapa budaya, praktik “taqaandan” (dengan sengaja membengkokkan penis yang ereksi) juga dapat meningkatkan risiko terjadinya fraktur penis.

Diagnosis Penis Patah

Diagnosis fraktur penis dilakukan oleh dokter spesialis urologi. Pemeriksaan fisik sangat penting, termasuk menilai gejala yang dialami pasien dan memeriksa kondisi penis secara menyeluruh.

Selain pemeriksaan fisik, beberapa prosedur penunjang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menilai tingkat keparahan cedera, antara lain:

  • Kavernosografi: Prosedur pencitraan dengan menggunakan zat kontras yang disuntikkan ke dalam corpora cavernosa untuk melihat robekan pada tunica albuginea.
  • Ultrasonografi (USG) penis: Menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar detail struktur internal penis.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI): Memberikan gambaran yang lebih detail dari struktur internal penis, termasuk pembuluh darah dan uretra.

Tes tambahan mungkin diperlukan untuk mengevaluasi kerusakan uretra.

Pengobatan Penis Patah

Pengobatan utama untuk fraktur penis adalah pembedahan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki robekan pada tunica albuginea dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Prosedur bedah biasanya dilakukan dengan anestesi lokal atau umum. Dokter akan membuat sayatan di kulit penis untuk mengakses area yang cedera. Kemudian, robekan pada tunica albuginea akan dijahit untuk memperbaiki kerusakan.

Setelah operasi, pasien biasanya akan diberikan obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Waktu pemulihan bervariasi, tetapi biasanya membutuhkan beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pasien harus menghindari aktivitas seksual selama beberapa minggu atau bulan setelah operasi, sesuai anjuran dokter.

Meskipun operasi biasanya sukses, beberapa komplikasi yang mungkin terjadi termasuk disfungsi ereksi, penyempitan uretra, pembengkokan penis (penyakit Peyronie), dan nyeri kronis saat ereksi. Komplikasi ini bervariasi tingkat keparahannya.

Pencegahan Penis Patah

Meskipun tidak selalu dapat dicegah, Anda dapat mengurangi risiko fraktur penis dengan beberapa langkah berikut:

  • Berhati-hati saat melakukan hubungan seksual, hindari posisi yang berisiko menyebabkan pembengkokan penis.
  • Gunakan pelumas yang cukup selama hubungan seksual.
  • Hindari masturbasi yang terlalu kasar.
  • Lindungi penis Anda saat berolahraga dengan pakaian yang tepat.
  • Hindari praktik-praktik yang bertujuan untuk membesarkan penis, karena dapat meningkatkan risiko cedera.
  • Tidur dalam posisi yang aman jika sering mengalami ereksi nokturnal.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti langkah-langkah pencegahan di atas, Anda dapat mengurangi risiko mengalami fraktur penis.

Kesimpulan

Penis patah adalah kondisi serius yang membutuhkan perawatan medis segera. Pengobatan yang tepat waktu dapat meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang. Penting untuk memahami penyebab dan gejala fraktur penis, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Konsultasikan selalu dengan dokter jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran terkait kesehatan seksual Anda.

Exit mobile version