Waspada, Penderita Diabetes Risiko Tinggi Dilarang Berpuasa Ramadhan

Cacing X

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Faradiessa Addiena Sp.PD, mengingatkan pentingnya kehati-hatian bagi penderita diabetes, khususnya mereka dengan risiko tinggi, selama bulan Ramadhan. Puasa dapat memicu komplikasi serius jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, bagi penderita diabetes dengan risiko tinggi, disarankan untuk tidak berpuasa.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak harus didasarkan pada penilaian risiko individu. Faktor-faktor seperti jenis diabetes, kontrol gula darah, riwayat komplikasi, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan perlu dipertimbangkan. Konsultasi dengan dokter sangat penting sebelum mengambil keputusan.

Risiko Puasa Bagi Penderita Diabetes

Berpuasa dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah yang signifikan. Kadar gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia) dapat menyebabkan gejala seperti pusing, lemas, hingga kehilangan kesadaran. Sedangkan kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia) dapat memicu komplikasi lebih serius.

Hiperglikemia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan ketoasidosis diabetik, suatu kondisi yang mengancam jiwa, terutama jika disertai dehidrasi. Dehidrasi sendiri meningkatkan risiko trombosis, pembentukan gumpalan darah yang dapat menyebabkan stroke atau penyakit jantung koroner.

Penderita diabetes tipe 1 umumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi saat berpuasa dibandingkan penderita diabetes tipe 2. Kondisi kesehatan lainnya, seperti penyakit akut atau pekerjaan fisik berat yang meningkatkan risiko dehidrasi, juga menjadi pertimbangan penting.

Mencegah Komplikasi

Untuk mengurangi risiko komplikasi, penting bagi penderita diabetes untuk melakukan skrining kesehatan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Skrining ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko dan merencanakan strategi manajemen gula darah selama berpuasa. Idealnya, skrining dilakukan dua bulan sebelum Ramadhan, atau paling lambat dua minggu sebelum memulai puasa.

Skrining ini akan mencakup pemeriksaan kadar gula darah, HbA1c (untuk menilai kontrol gula darah jangka panjang), dan pemeriksaan kesehatan lainnya yang relevan. Dokter akan memberikan arahan terkait pengaturan pola makan, olahraga, dan pengobatan selama bulan puasa.

Jika penderita diabetes tetap ingin berpuasa, kontrol gula darah yang ketat sangat penting. Kadar gula darah sebelum sahur dan berbuka harus dipantau secara rutin. Kadar gula darah ideal sebelum sahur berada di antara 80-130 mg/dL, dan kurang dari 180 mg/dL dua jam setelah makan.

Peran Konsultasi Dokter

Konsultasi dengan dokter spesialis merupakan langkah krusial bagi penderita diabetes yang ingin berpuasa. Dokter akan mengevaluasi kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh dan memberikan rekomendasi yang tepat. Beberapa faktor seperti jenis dan tingkat keparahan diabetes, pengobatan yang dikonsumsi, riwayat komplikasi, dan kondisi kesehatan secara umum akan dipertimbangkan.

Dokter mungkin menyarankan penyesuaian dosis obat atau perubahan pada pola makan dan olahraga untuk menjaga stabilitas kadar gula darah selama berpuasa. Mereka juga dapat memberikan panduan tentang cara mengatasi hipoglikemia atau hiperglikemia jika terjadi.

Ingatlah bahwa tujuan utama adalah menjaga kesehatan dan keselamatan selama bulan Ramadhan. Keputusan untuk berpuasa harus didasarkan pada rekomendasi dokter dan kemampuan tubuh untuk menanganinya. Jangan ragu untuk berkonsultasi secara berkala dengan dokter selama bulan puasa untuk memantau kondisi kesehatan Anda.

Selain itu, penting juga untuk mempelajari tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia, serta mengetahui cara mengatasinya. Memiliki rencana tindakan yang jelas dapat membantu mengurangi risiko komplikasi dan menjaga kesehatan selama bulan Ramadhan.

Also Read

Tags