Testis, atau buah zakar, merupakan organ reproduksi vital pria yang terdiri dari dua organ berbentuk oval seukuran buah zaitun. Terletak di dalam skrotum, kantung kulit yang menggantung di belakang penis. Peran penting testis dalam reproduksi dan produksi hormon membuat setiap penyakit yang menyerang organ ini perlu penanganan segera.
Posisi testis yang berada di luar tubuh dan tanpa perlindungan tulang membuatnya rentan terhadap cedera. Benturan, tendangan, atau kecelakaan bisa mengakibatkan trauma testis. Pada cedera ringan, pemulihan mungkin terjadi sendiri. Namun, segera konsultasikan ke dokter jika nyeri berlanjut, disertai muntah, pembengkakan, atau bahkan pecah.
Ragam Gangguan dan Penyakit pada Testis dan Skrotum
Berbagai kondisi medis dapat mempengaruhi testis dan skrotum, berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesejahteraan pria secara keseluruhan. Berikut beberapa di antaranya, mulai dari cedera hingga kondisi yang lebih kompleks.
Trauma Testis
Trauma testis merupakan cedera yang umum terjadi, disebabkan oleh benturan fisik pada area skrotum. Gejala bisa berupa nyeri hebat, pembengkakan, dan memar. Perawatan bervariasi tergantung tingkat keparahan, mulai dari perawatan rumahan hingga operasi jika terjadi kerusakan serius.
Diagnosis tepat waktu penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti infertilitas. Oleh karena itu, segera periksakan diri ke dokter jika mengalami trauma pada area testis.
Kanker Testis
Kanker testis terjadi ketika sel-sel dalam testis tumbuh secara tidak terkendali. Penyakit ini dapat menyerang pria dari segala usia, meskipun lebih sering terjadi pada usia 15-35 tahun. Pada tahap awal, kanker testis seringkali tidak menunjukkan gejala, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting.
Gejala yang mungkin muncul termasuk benjolan di testis, pembengkakan, nyeri, dan perubahan ukuran testis. Pengobatan kanker testis bervariasi tergantung stadium penyakit, dan dapat melibatkan operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
Torsio Testis
Torsio testis merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika korda spermatika (struktur yang memasok darah ke testis) terpuntir. Hal ini membatasi aliran darah ke testis, menyebabkan nyeri hebat dan pembengkakan. Jika tidak ditangani segera, torsio testis dapat menyebabkan kerusakan permanen pada testis, bahkan memerlukan pengangkatan.
Torsio testis memerlukan penanganan medis segera. Operasi diperlukan untuk memperbaiki korda spermatika yang terpuntir dan memulihkan aliran darah. Penanganan cepat sangat krusial untuk menyelamatkan testis.
Epididimitis
Epididimitis adalah peradangan pada epididimis, tabung yang terletak di belakang testis yang berfungsi menyimpan dan mematangkan sperma. Kondisi ini sering disebabkan oleh infeksi bakteri, yang dapat menyebar dari saluran kemih atau infeksi menular seksual (IMS).
Gejalanya meliputi nyeri, pembengkakan, kemerahan pada skrotum, demam, dan nyeri saat buang air kecil. Pengobatan biasanya melibatkan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Dalam kasus yang parah, mungkin diperlukan operasi untuk menguras abses atau mengangkat epididimis yang terinfeksi.
Varikokel
Varikokel adalah pembesaran abnormal dari pembuluh darah vena di dalam skrotum. Mirip dengan varises pada kaki, varikokel dapat menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada skrotum. Kondisi ini lebih sering terjadi pada testis sebelah kiri.
Sebagian besar varikokel tidak memerlukan pengobatan, tetapi jika menyebabkan nyeri atau infertilitas, operasi atau embolisasi dapat menjadi pilihan perawatan. Perawatan bertujuan untuk memperbaiki aliran darah dan mengurangi gejala.
Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukan cairan di dalam lapisan yang mengelilingi testis. Kondisi ini umum terjadi pada bayi dan biasanya sembuh sendiri. Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi karena cedera, infeksi, atau tumor.
Hidrokel dapat menyebabkan pembengkakan pada skrotum. Jika hidrokel tidak hilang sendiri, perawatan mungkin melibatkan aspirasi cairan (pengeluaran cairan dengan jarum) atau operasi untuk mengangkat cairan atau menambal lapisan yang bocor.
Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah kondisi di mana testis tidak memproduksi cukup testosteron. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk penurunan libido, disfungsi ereksi, kelelahan, penurunan massa otot, dan peningkatan lemak tubuh.
Pengobatan hipogonadisme berfokus pada penggantian testosteron melalui terapi penggantian hormon (TRT). TRT membantu meringankan gejala dan memperbaiki fungsi seksual. Pemilihan pengobatan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan hipogonadisme.
Kesimpulan
Testis dan skrotum merupakan organ yang saling berhubungan erat, sehingga gangguan pada salah satunya bisa berdampak pada organ yang lain. Kesehatan reproduksi pria sangat bergantung pada kesehatan testis. Perawatan medis yang tepat waktu sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.